Nov 13

Terdapat perbedaan security sandbox pada Flash Lite 3.0 dibanding versi-versi Flash Lite terdahulu. Secara umum Flash Lite 3.0 mengikuti model dari Flash 8 security.
Ketemu masalah yang baru ku sadari ketika ingin membuat aplikasi Flash Lite 3.0 dengan menggunakan XMLSocket yang berhubungan dengan SocketServer lokal yang dibuat dengan Python di N95, (ide ini secara umum sudah diterapkan di Flyer Framework).
Terdapat kesulitan untuk koneksi, pertama kali aku menduga hal ini disebabkan perbedaan versi interpreter Python yang ku pakai (1.4.1) dengan os device.
Setelah berapa kali utak-atik, akhirnya ku coba dengan emulator Adobe Device Central CS3 di PC untuk koneksi dengan server socket sederhana di Python Desktop, ternyata berhasil terkoneksi.
Ketika dicoba di device tetap gagal, demikian pula ketika di coba diputar dengan Flash Player 9 terdapat dialog security window.
Setelah membaca Local file security ada beberapa penjelasan yang membantu penyelesaian masalah.

# Trust management is done by the host application in Flash Lite.

Flash Lite 3.0 standalone player sebagai host.

# No trust configuration files are required in Flash Lite.
Ini yang repot bila kita membuat local swf yang ingin akses ke network.
Dengan begitu mekanisme load ‘cross-domain policy files’ tidak akan membantu??

# SWF file developers, manufacturers, and carriers must make all security decisions in Flash Lite. There is no user-mediated trust, or Settings Manager. However, the host application may provide a mechanism by which users can make limited security decisions. For example, the host may allow users to designate a particular SWF file as trusted.

Beberapa aplikasi swf2sis seperti Janus, KuneriLite yang bertindak sebagai host mungkin dapat menangani hal ini di Flash Lite 1.x - 2.x, tapi belum ada pemberitahuan untuk FL3.

# Prohibited operations fail silently; no dialog box is displayed in Flash Lite.
Ini yang membuat pusing pada awalnya, tidak ada pesan kesalahan atau koneksi gagal yang disampaikan.

Mestinya untuk Flash Lite harus ada fasilitas On Device Debug seperti kepunyaannya SonyEricsson.

Nov 4

Setelah agak lama menunggu, akhirnya FlashLite 3.0 Developer Edition yang ku request 3 minggu lalu mampir juga di inbox. Sebuah email dari Richie Teo (Adobe System Incorporated) berisi attachment SIS langsung ku download.

FlashLite edisi developer ini merupakan standalone, jadi tidak terintegrasi dengan web browser built-in dari N95. Nokia sendiri telah mengumumkan dukungan FlashLite 3.0 pada device terbaru mereka dalam waktu dekat.

FlashLite 3.0 mempunyai perbedaan dengan FlashLite versi-versi sebelumnya seperti pada performance (rendering, scripting speed, dan code optimization) yang 25% - 30% lebih baik, manajemen memory yang lebih efisien, dukungan terhadap FLV, Emoticons in predefined color, External API for browser scripting.

Informasi tentang FlashLite 3.0 lebih lanjut dapat di lihat di FlashLite Features, FlashLite version comparison, FlashLite architecture, Nokia CreativePro.

Saat ini tidak ada link langsung untuk download FlashLite 3.0 dan aku tidak bisa membagikannya karena SIS-nya IMEI depending, bila anda tertarik bisa merequest via email, petunjuk lebih lanjut bisa dibaca disini.

Untuk eksperimen lebih lanjut terutama mobile video dengan FlashLite 3.0 belum bisa ku posting, karena masih diluar kota. Tapi sebagai persiapan ada baiknya anda download Flash Lite 3.0 Update for Flash CS3 Pro and Device Central CS3 dari MaD Developer Center.

Oct 9

FlashLite 3.0 edisi developer untuk N95 bisa diperoleh dengan submit email ke mobiledeveloper@adobe.com dengan subject “Request for FL3 Developer Edition” disertai IMEI N95 anda di dalam email tersebut.
Perlu diperhatikan bahwa waktu submit email itu hanya dilayani pada tanggal 16 Oktober 2007 sore hari waktu Eastern Time (GMT+4) atau kira-kira (jam 11.00 WIB 16 Oktober 2007 malam s/d 04.00 am WIB 17 Oktober 2007 dini hari). Dan built SIS-nya akan tersedia pada akhir 19 Oktober 2007.

Sep 8

FlashLite yang didukung oleh N95 saat ini adalah FlashLite 2.0, sedangkan FlashLite 2.1 baru akan didukung oleh Nokia N95 8Gb, yang agak bikin repot adalah sewaktu mau upgrade ke FlashLite 2.1 di N95 ternyata tidak berhasil. Muncul error yang mengatakan tidak bisa menginstall/ meng-update aplikasi yang sudah terinstall di ROM.
Hal ini terjadi karena identifier yang digunakan oleh FlashLite 2.0 dan FlashLite 2.1 serupa.
Hampir mirip dengan keadaan di PC dimana semua Flash Player baik dari semua versi generasi maupun versi debug/non debug menggunakan identifier yang sama.
Ada baiknya Adobe menerapkan sistem identifier yang dapat menangani situasi seperti ini.

Untuk J2ME API, ternyata N95 sudah mendukung implementasi dari JSR179 (Location API for J2ME). Dengan demikian kita bisa membuat sebuah aplikasi midlet untuk navigasi dengan GPS built-in dari N95.
Ada beberapa pertimbangan untuk membuat sebuah aplikasi navigasi peta daripada hanya menggunakan aplikasi serupa yang bawaan dari Nokia (Smart2Go).
Pertama, tidak semua kota di Indonesia yang sudah tercakup di pre-installed NokiaMap yang disertakan sewaktu pembelian. Hanya Jakarta saja. Itu pun menurut beberapa sumber (pengguna GPS lain) menyebutkan detail dan feature map tidak dapat dibandingkan dengan GPS devices seperti Garmin atau pun Magellan.
Selain itu, meskipun Nokia sudah memberitahukan adanya kerjasama dengan third party (Solo Maps) untuk pembuatan dan pemasaran peta kota lain terutama di Jawa dan Bali yang suitable dengan NokiaMap, tentunya tidak gratis begitu saja sampai ke pengguna.
Pertimbangan lain adalah kadangkala N95 memerlukan charge untuk koneksi guna mendownload fitur-fitur tambahan dan area yang tidak tercover.
Dan hal lain yang sering membuatku kecewa dengan GPS devices (tidak Garmin, tidak Magellan, tidak juga N95) adalah keakuratan bangunan alam di peta vector generik mereka. Ini sering ku temui sewaktu tracking dikotaku. Seringkali sewaktu menyisiri daerah pinggiran sungai besar, ada daerah rute, POI (point of interest) yang sebenarnya masih berada 400 meter dipinggir sungai, tetapi bila dilihat di screen ternyata sudah berada di tengah-tengah sungai besar itu. Ada kemungkinan rata-rata semua devices diatas memakai sumber source peta yang sama, terutama pada daerah di Kalimantan yang tentu saja sangat terpencil dibanding tanah Amerika sana sehingga keakuratan belum tentu terjaga. Hal lain yang menyebabkan kondisi seperti itu kemungkinan adalah pemakaian Datum WGS 84 yang mungkin tidak aplikable pada daerah-daerah di Indonesia. (sok tau kali..)

Dari semua pertimbangan dan ide pembuatan aplikasi devices, yang paling penting adalah pemilihan platform. Apakah menggunakan platform J2ME atau Symbian akan menghasilkan perbedaan besar pada outputnya. Terlalu lama sebagai pengguna SonyEricsson yang berbasis BREW J2ME mengharuskan aku untuk mengutak-atik lagi CodeWarrior untuk menyegarkan ingatan.